Yang Terlewatkan.

Untukmu, pria yang sering kutemui dalam perjalanan menuntut ilmu dengan tas punggung dan rambut yang berantakan.

Lucu, ya? Kupikir sebenarnya tidak ada yang perlu aku katakan padamu. Alih-alih bercengkrama, berbalas sapa pun kita tak pernah.

Kecuali jika kau hitung tatapan mata itu, yang saling bertemu dalam bisu.

Aku sedikit bodoh tentang perasaan, lisan atau tidak. Bahkan untuk menuliskan ini, tiga puluh kali tiga puluh kali aku menghapusnya hanya untuk menulis hal yang sama.

Ingat saat kau berdiri dekat denganku? Saat itu kita sudah lusuh bertarung dengan hasrat ingin pulang. Manusia di sekitar tak kenal jarak, bersaing menduduki kursi yang terasa bak singgasana.

Dan aku dengan canggungnya menempel pada temanku, berharap air wajahku datar saja sembari diam-diam menikmati debar yang kuharap tidak terdengar oleh siapapun. Sedikit demi sedikit, aku menyenggol temanku yang mulai menggodaku.

“Ada si gondrong.”

Aku, yang sudah bisa mengira kemana tujuan pulangmu, separuh mati menutupi bahwa aku sesungguhnya tertarik, setidaknya dengan namamu; membuat lidahku kelu di bawah gengsi yang menyisakan frustasi.

Oh, ada lagi.

Ingat saat kau melirik buku panduan grammar yang aku dan temanku bahas di perjalanan? Sebenarnya, apa yang ada di pikiranmu saat itu?

Apa kami terlihat seperti mahasiswa kupu-kupu? Atau calon penerima suma cumlaude? Atau hanya gerombolan manusia cupu yang bersembunyi di sudut kelas saat dosen mengajukan tanya?

Aku lelah menerka, namun egoiskah jika aku berpikir kalau kau mencoba mencari tahu tentangku walau sedikit?

Mungkin itu sedikit tak adil, kami tahu kau seorang mahasiswa teknik (iya, kau pernah memakai baju prodimu saat itu. Angkatan berapa ya? ’14?); sementara kami tidak begitu peduli dengan tetek bengek kampus dan politiknya, memilih tidak melibatkan diri.

Dan aku yang egois ini, menutupi diri seolah tak peduli, tidak pernah menunjukkan apapun padamu kecuali klu itu. Padahal, aku bisa saja mulai bicara seperti biasa. Seperti teman.

Dan satu lagi.

Ingat saat kita akhirnya sendiri? Dan kau berdiri tak jauh dari kursiku —kursimu, yang dengan santainya kau beri seolah kau tak butuh—membuatku merasa asing. Tersenyum dan menatap matamu pun aku tak bisa, apalagi mengucap terima kasih?

Aku penasaran, tapi aku enggan. Aku puja perasaan itu seolah rahasia yang harus tersimpan.

Mengapa, ya? Apa karena godaan temanku yang membuatku risih? Atau karena kau tampan — menarik? Atau .. karena kau tertarik, dan aku malu mengakui?

Kau tahu? Lagu-lagu yang kudengarkan setiap naik bus, kini terasa seperti soundtrack film yang aku tonton masa putih merah dulu.

Familiar sekali, sekaligus asing.

Rasa yang lama, dekat, namun tak ada artinya. Kau bahkan tidak tahu, ‘kan? Lantas, apa gunanya?

Jadilah aku melepaskannya dengan untaian kata ini, bagai angin kencang yang menerbangkannya pergi.

Semoga tidak sampai padamu.

--

--

21+, bilingual, writing for healing.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store